MACAM-MACAM JIHAD

 

Jihad senantiasa dikaitkan dengan kata-kata fii sabilillah karena memang Islam tidak pernah mengajarkan jihad kecuali di jalan Allah (jalan kebaikan). Secara konseptual, jihad dalam arti umum—yaitu bekerja keras untuk mencapai kesuksesan—merupakan suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap Muslim dalam menjalankan agamannya. Tujuannya demi kesempurnaan akidah, syariah, dan akhlaknya; sebagai komitemen, baik yang berskala besar maupun kecil.

Maksud jihad dalam kehidupan berskala kecil adalah bersemangat untuk melaksanakan segala perintah Allah Swt. dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya. Perbuatan tersebut diwujudkan dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt. yang disebut ibadah mahdhah dan hubungan dengan sesama manusia yang disebut ghair mahdhah. Kemudian, yang dimaksud jihad dalam skala besar besar adalah cita-cita umat Islam untuk mewujudkan, membumikan, dan menyebarkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Semua upaya tersebut dapat disebut jihad.[1]

Allah Swt. berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (QS Al-Hajj: 78)

Jihad juga memiliki makna khusus, yakni berperang melawan musuh Allah, atau lebih dikenal dengan sebutan qital. Jihad seperti ini dibahas dalam kitab-kitab fiqh dan pembahasannya bersifat teknis yang dikaitkan dengan perang, hubungan antara negara, dan pembahasan siyasah atau politik.

Jihad dalam makna khusus ini merupakan kewajiban kolektif atau fardhu kifayah. Wujud aktivitasnya adalah berperang untuk menegakan Islam dan melindungi orang-orang Islam dari kebatilan.[2]



[1] H.A.R Sutan Mansur, (1982) Jihad, Panji Masyarakat, Jakarta, hlm. 68.

[2] Rosyanti Imas, Esensi Al-Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, hlm. 222.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>