SIKAP DAN ETIKA BERMUSYAWARAH

 

Sesungguhnya, musyawarah adalah di antara bentuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, agar musyawarah mendapatkan suatu keputusan yang baik dan diridhai Allah, hendaknya anggota musyawarah memiliki sikap-sikap dalam bermusyawarah. Hal demikian sebagaimana yang paparkan dalam Al Quran surat Ali Imran, 3: 159, yaitu: [1]

  1. Lemah lembut, baik dalam sikap, ucapan maupun perbuatan, bukan dengan sikap emosional dan kata-kata yang kasar karena hal itu hanya akan menyebabkan orang-orang meninggalkan majelis musyawarah.
  2. Memberi maaf atas hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh anggota musyawarah. Dalam bermusyawarah juga harus menyiapkan mental pemaaf terhadap orang lain karena bisa jadi dalam proses musyawarah itu akan terjadi hal-hal kurang menyenangkan atas sikap, perkataan, atau tindak-tanduk orang lain. Manakala sikap pemaaf ini tidak dimiliki dalam bermusyawarah, hal itu akan berkembang menjadi pertengkaran secara emosional dan berujung pada perpecahan yang melemahkan kekuatan jamaah.
  3. Memohon ampun kepada Allah. Karena dalam bermusyawarah sangat mungkin muncul kesalahan yang tidak disadari, baik pada sesama anggota musyawarah atau pun kepada Allah, maka Rasulullah saw. mengajarkan doa kafaratul majelis.
  4. Membulatkan tekad. Seharusnya peserta suatu musyawarah membulatkan tekad dalam mengambil suatu keputusan yang disepakati bersama bukan saling ingin menang sendiri tanpa ada keputusan. Kemudian keputusan-keputusan yang telah diambil harus dijalankan.
  5. Bertawakal kepada Allah. Setelah bermusyawarah, seharusnya keputusan yang telah diambil diserahkan kepada Allah karena Dia-lah yang menentukan segala sesuatu. Ibnu Katsir mengatakan, “Jika musyawarah telah selesai dan keputusan telah bulat, bertawakallah pada Allah. Begitu juga di kemudian hari jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, bertawakkal kepada Allah menjadi sangat diperlukan, bukan malah saling salah-menyalahkan. Yang demikian itu telah dicontohkan Rasulullah seusai perang Uhud. Kegagalan yang terjadi tidak melahirkan perbuatan yang saling salah-menyalahkan.[2]


[1] Abdurrahman bin Nashir bin al-Sa’di, (2000) Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah al-Risalah, Bairut, jilid. 1, hlm. 154

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 2, hal. 150

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>