Gerakan dan bacaan shalat belum cukup membuat shalat seseorang diterima. Selain kedua hal itu, seseorang harus melakukannya secara khusyu’. Bagaimana agar shalat menjadi khusyuk?

 ***

IBADAH shalat tidak hanya terdiri dari gerakan-gerakan dan bacaan yang harus ditunaikan demi terpenuhinya rukun dan syarat sah shalat. Pemenuhan gerakan dan bacaannya saja belum cukup agar shalat bisa diterima oleh Allah Swt. Hal ini sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah saw.

“Adakalanya seseorang melakukan shalat tetapi tidak akan dicatatkan baginya di sisi Allah walau hanya seperenamnya atau sepersepuluhnya. Tak akan diterima dari shalatnya seseorang kecuali sekadar yang dilakukannya dalam keadaan sadar (khusyu’).” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Perintah Agar Melakukan Shalat Secara Khusyuk

Cukup banyak keterangan seperti itu yang dinukilkan dari Rasulullah saw., para sahabat, dan tabi’in yang menekankan agar shalat dilakukan secara khusyuk. Hal itu dikarenakan tujuan dari shalat sendiri bukan sekadar gugur kewajiban, melainkan sebagai bentuk penghambaan agar manusia senantiasa mengingat Allah Swt. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut.

“Sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha, 20: 14)

Maka dari itu, dalam pelaksanaan shalat, dibutuhkan konsentrasi dan fokus melakukan penyembahan kepada Allah Swt. agar shalat menjadi khusyuk dan tujuan dari shalat itu sendiri terpenuhi.[i]

Makna Khusyuk dalam Al Quran

Kata khusyu’ disebutkan dalam Al Quran yang makna bahasanya berkisar pada hina atau menunduk, merendahkan diri dan tenang, serta ketakutan atau kering. [ii] Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS Thâhâ, 20: 108)

Agar Shalat Menjadi Khusyuk

Berdasarkan penjelasan tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa yang namanya khusyuk adalah sikap menghadirkan Allah Swt. dalam shalatnya. Menurut Imam Al Ghazali, sekurangnya ada lima kondisi yang harus diperhatikan ketika sedang melakukan shalat agar shalat menjadi khusyuk. Kelima hal tersebut adalah: 1) menghadirkan Allah dalam hati, 2) bersungguh-sungguh dalam upaya memahami makna yang terkandung dalam setiap ucapan, 3) menghadirkan rasa takut (khauf), 4) rasa harap (raja’), dan 5) rasa malu yang dilatarbelakangi kelemahan sebagai makhluk yang ditunjukkan semata-mata hanya kepada Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

Sesungguhnya shalat itu ketetapan hati dan penyesalan diri. Engkau rendahkan dirimu seraya berucap Allahumma, Allahumma, (Ya Allah, Ya Allah). Barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka shalatnya tidak sempurna. [iii]


  1. [i] Muhammad Bagir, (2008), Fikih Praktis I, Jakarta: Karisma, hlm. 147-148
  2. [ii] Ahmad Ibnu Faris, (1994), Muqayis al-Lughah, Beirut : Dar al-Fikr, hlm. 150
  3. [iii] Al-Ghazali, (2003), Mutiara ihya Ulumudin, Bandung: Mizan, cet. 15, hlm. 61