Sebagai ajaran monotheis yang hanya menuhankan Allah Swt., Islam mengajarkan konsep al wala’ wal bara’. Apa hubungannya dengan penuhanan kepada Allah Swt.?

***

SYARAT tauhid terdiri dari dua bagian. Kedua bagian itu adalah sebagai berikut.

  1. Pertama, kalimat nafi (laa) yang berarti tidak; dan manfi (ilah) yang dinafikan atau ditolak. Penolakan ini diwujudkan dengan menolak, memusuhi, dan memisahkan diri dari segala sesuatu yang bukan dari Allah Swt.
  2. Kedua, kalimat itsbaat (illa) yang berarti kecuali, yaitu untuk mengukuhkan; dan mutsbat (Allah), yang dikecualikan atau dikukuhkan.

Melalui kedua bagian itu, kalimat laa illaaha illallah berarti menolak segala illah berupa apa pun dan dalam bentuk apa pun. Pada saat yang sama, kalimat itu menegaskan dan hanya mengakui satu ilah, yaitu Allah Swt. Bagian ini diwujudkan dalam bentuk ketaatan, pembelaan, dan kecintaan kepada-Nya.[i]

Kesempurnaan Ibadah Disertai Al Wala’ wal Bara’

Dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam, seorang muslim tidak cukup dengan mengikhlaskan niatnya kepada Allah Swt. Keikhlasan ibadah dan pengabdiannya sebagai seorang hamba akan sempurna apabila ia menolak segala suatu penghambaan kepada tuhan palsu dan hanya memberikan loyalitas penghambaannya kepada Allah Swt. Inilah yang disebut dengan konsep loyalitas dan penolakan (al wala’ wal bara’).

Dalam terminologi syariat Islam, al wala’ berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai Allah Swt., baik berupa perkataan atau perbuatan. Sedangkan al bara’, penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa-apa yang dibenci-Nya. Dengan sikap al wala’ wal bara’ ini, seorang Mukmin akan senantiasa mengarahkan dirinya kepada Allah Swt. dalam setiap perbuatannya.[ii]

Al Wala’ wal Bara’ kepada Allah dan Rasul-Nya

Al wala’ wal bara’ bukan hanya ditujukan kepada Allah Swt., melainkan juga kepada Muhammad bin Abdullah sebagai petugas fungsi kerasulan Allah Swt. Hal itu karena beliaulah yang menyampaikan risalah minhaj al wala’ wal bara’, mulai dari dasar filosofisnya hingga ke tataran teknis pelaksanaannya.

Syarat tauhid mengikat seorang Muslim untuk mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah Swt.; sedangkan syahadat rasul, mengikatnya untuk mengikuti tuntunan Rasulullah saw. dalam beribadah (baik yang mahdhah maupun yang ghair mahdhah). [iii]


Sumber Bacaan:

  1. [i] Muchlisin Asti, Tidak Semua Syahadat diterima Allah, Yogyakarta: Mutiara Media, hlm. 62
  2. [ii] Yazid bin Abdul Qadir, (2006), Syarah Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, hlm. 494
  3. [iii] Muchlisin Asti, op.cit, hlm. 63