Sejarah mencatat, betapa banyak orang yang hancur kehormatannya gegara perkataannya. Oleh karena itu, sejak mula Islam mengajarkan untuk berkata baik atau diam untuk menjaga kehormatan umatnya. Bagaimana ajaran ini disyariatkan?

 ***

BELAJAR dari sejarah kehidupan Rasulullah saw. yang mulia, ajaran Islam telah sangat detail memperhatikan persoalan keummatan. Salah satu yang disyariatkan adalah adab menjaga lisan.[i] Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim)

Berkata Baik atau Diam Salah Satu Bukti Keimanan Sempurna

Kalimat barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maksudnya adalah barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna, yang keimanannya itu menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah. Salah satu bukti yang nyata dari bentuk keimanan seperti itu adalah berkata baik atau diam. Karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu takut kepada ancaman dan hanya mengharap keridhaan-Nya.

Bagaimana Praktik Berkata Baik atau Diam?

Hal yang penting dari semua itu adalah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badan, terutama lisan. Karena selain akan dimintai pertanggung jawaban, bila lisan tidak dapat dijaga, akan menimbulkan banyak marabahaya. Hal itu sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw. dalam hadits berikut.

“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya?” (HR Tirmidzi No. 2541)

Barangsiapa yang memahami hal ini dan beriman kepada Allah dengan keimanan yang sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik. Atau Mukmin tersebut akan memilih diam, daripada membicarakan hal-hal yang buruk baginya.[ii]

Pengertian hadits tersebut, menurut sebagian ulama juga diartikan seperti berikut ini. “Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik juga benar, dia diberi pahala. Sedangkan jika tidak, hendaklah ia menahan diri.”[iii]

Jadi, mari mulai berkata baik atau diam sama sekali. Mudah-mudahan hal tersebut menjadi salah satu bukti sempurnanya keimanan kita kepada Allah Swt. dan Hari Akhirat kelak.


Sumber Bacaan:

  1. [i] Al-Ghazali, (2003) Mutiara ihya Ulumudin, Bandung: Mizan, cet. 25, hlm. 183
  2. [ii] Ibnu Daqiq al-Ied, (2001), Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi , Yogyakarta: Media Hidayat, cet. 10, hlm. 83-84
  3. [iii] Imam Malik ibn Anas (1999), Al-Muwatha Jakarta: Raja grafindo Persada, hlm. 565