Shalat sunnah dhuha tengah menjadi tren. Shalat ini dipercaya berkaitan dengan bertambahnya rezeki pelakunya. Benarkah? Apalagi keutamaan shalat sunnah dhuha?

***

SHALAT DHUHA merupakan salah satu shalat sunnah yang dianjurkan (sunnah muakad). Hal demikian sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut. [i]

“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. berpesan kepadanya agar mengerjakan tiga hal: Puasa tiga hari setiap bulannya, shalat witir sebelum tidur di malam hari, dan shalat dua rakaat dhuha.” (HR Bukhari)

Keutamaan Shalat Sunnah Dhuha

Salah satu keutamaan shalat sunnah dhuha adalah bahwa nilainya sama dengan bersedekah. Nilai sedekahnya bahkan meliputi seluruh persendian dalam tubuh manusia. Hal demikian sebagaimana yang termaktub dalam hadits dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

“Pada setiap tulang sendi dalam tubuh manusia ada kewajiban sedekah yang harus ditunaikan. Setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir adalah sedekah. Setiap amar makruf dan nahi mungkar pun sedekah. Dan cukuplah untuk semua (kewajiban sedekah) itu, dikerjakan dengan dua rakaat yang dikerjakan pada waktu pagi hari ketika matahari telah naik sepenggalah (dhuha).” (HR Ahmad dan Muslim)

Hadits tersebut sekaligus menerangkan kapan waktu-waktu yang bisa digunakan melaksanakan shalat dhuha. Yaitu dimulai sejak naiknya matahari pada pagi hari setinggi tombak atau kira-kira sekitar pukul tujuh, dan berakhir ketika matahari berada tepat di atas langit (yakni saat masuk waktu dzuhur). [ii]

Tata Cara dan Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Sebagaimana shalat wajib, shalat dhuha juga harus diawali dengan niat dalam hati. Kemudian dilanjutkan sesuai tata cara shalat pada umumnya.

Adapun mengenai jumlah rakaat shalat dhuha itu sendiri, menurut keterangan para fuqaha paling sedikit dua rakaat (seperti yang diterangkan oleh hadits di atas). Namun, apabila dilaksanakan empat rakaat jangan ada tasyahud awal supaya tidak menyerupai shalat fardu (zhuhur, ashar, dan isya). Sedangkan jumlah rakaat yang lebih sering dilakukan Rasulullah saw. adalah sebanyak delapan rakaat. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut. [iii]

“Diriwayatkan oleh Ummu Hani’ binti Abi Thalib, Rasulullah saw. mengerjakan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat dan mengucapkan salam pada setiap dua rakaaat.”


  1. [i] M. Khalilurrahman Al Mahfani, (2008), Berkah Shalat Dhuha, Jakarta: Wahyu Media, hlm.
  2. [ii] Ibnu Daqiq al-Ied, (2001), Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Yogyakarta: Media Hidayah, cet. 10, hlm. 130
  3. [iii] Muhammad Bagir, (2008) Fiqh Praktis I, Bandung: Karisma, hlm. 173-174