Sebagai sebuah agama superlengkap, Islam ternyata mengandung ajaran sistem perekonomian khas, termasuk perseroan. Bagaimana memahami perseroan dalam Islam?

***

ISLAM telah membenarkan seorang muslim menggunakan uangnya secara perorangan dalam usaha-usaha yang mubah. Islam juga membolehkan penganutnya untuk menyerahkan modalnya kepada orang yang ahli dengan cara mudharabah. Begitu juga, Islam memberi perkenan kepada para pemilik modal untuk mengadakan syirkah dalam suatu usaha, apakah berupa perusahaan atau perdagangan dan sebagainya.[i]

Hubungan Perseroan dan Ajaran Islam

Syirkah berasal dari kata syarikah atau syarkah yang artinya pencampuran atau interaksi. Bisa juga artinya membagikan sesuatu antara dua orang atau lebih menurut hukum kebiasaan yang ada. Sementara itu, dalam terminologi ilmu fiqih, arti syirkah yaitu persekutuan usaha untuk mengambil hak atau beroperasi.[ii] Syirkah dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk berusaha mengembangkan hartanya, baik harta warisan, maupun harta yang didapat dengan cara bermuamalah lainnya.

Istilah syirkah telah terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “serikat”, “syarikat”, “perserikatan”, “perseroan”. Oleh karena itu, sistem perseroan dapat ditemukan dan mendapatkan landasannya dalam Islam. Untuk menemukan landasan syariah istilah ini, Allah Swt. berfirman sebagai berikut. [iii]

“Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu….” (QS An Nisa, 4: 12)

Praktik Perseroan dalam Islam Masa Rasulullah saw.

Keberadaan syirkah sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad saw. Diceritakan bahwa Al Barra bin Azib dan Zaid bin Arqam keduanya bersyarikat dalam perniagaan. Mereka membeli barang-barang secara kontan dan nasi’ah. Berita itu sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian memerintahkan agar menerima barang-barang yang mereka beli dengan kontan dan menolak barang-barang yang mereka beli dengan nasi’ah. [iv]

Rasulullah saw. membolehkan syirkah selama perbuatan dan sikap hidup yang dilakukan dalam perserikatan tersebut saling menguntungkan para pihak dan disertai dengan niat yang baik.[v] Hal tersebut sebagaimana disampaikan dalam salah satu haditsnya berikut ini.

“Tangan Allah bersama dua orang yang berserikat, selama salah satu pihak tidak berkhianat kepada yang lain; apabila salah satu pihak ada yang mengkhianati kawannya, maka tangan-Nya itu akan ditarik dari keduanya.” (HR Daraquthni)


Sumber Bacaan:

  1. [i] Yusuf Qardhawi, (1982), Halal dan Haram dalam Islam, Surabaya: PT Bina Ilmu, hlm. 375
  2. [ii] Anwar Sarwat, (2009) Kitab Muamalat, Kampus Syari’ah, hlm. 77
  3. [iii] Abu Bakar Jabir el-Jazairi, (1991), Pola Hidup Muslim, Bandung: Rosda Karya, hlm. 76
  4. [iv] Anwar Sarwat,op.cit, hlm. 78
  5. [v] Yusuf Qardhawi, op.cit, hlm. 376