Praktik suap-menyuap bukanlah hal baru. Kejahatan keji ini sudah terjadi sejak lama. Islam kemudian mensyariatkan larangannya. Bagaimana suap-menyuap dalam pandangan Islam?

***

Makna Suap-Menyuap dalam Pandangan Islam

DALAM bahasa Arab, suap-menyuap atau sogokan diistilahkan dengan risywah. Kata risywah itu sendiri berasal dari kata rasya’ yang berarti “tali yang menyampaikan timba ke air”.[i]

Secara terminologi, suap-menyuap berarti pemberian seseorang kepada hakim atau pengambil putusan lainnya untuk mendapatkan hal yang diinginkan dengan cara yang tidak dibenarkan. Dengan cara bathil inilah sebuah putusan berubah, sehingga menyakiti banyak orang. Maka wajar bila ulama sepakat mengharamkan risywah yang terkait dengan pemutusan hukum, bahkan perbuatan ini termasuk dosa besar. Hal itu karena sogokan akan membuat hukum menjadi oleng dan tidak adil. Selain itu tata kehidupan yang menjadi tidak jelas.[ii]

 

Larangan Allah Swt. dan Rasul-Nya tentang Suap-Menyuap

Larangan tentang suap-menyuap dalam pandangan Islam dinyatakan secara jelas. Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah, 2: 188)

Dalam ayat di atas terdapat kalimat `akkaaluna lissuhti`. Secara umum, kalimat tersebut sering diterjemahkan dengan memakan harta yang haram. Namun menurut Imam Al Hasan dan Said bin Jubair, konteks kalimat tersebut adalah memakan harta hasil sogokan atau risywah.[iii]

Selain itu ada banyak sekali dalil dari sunnah yang mengharamkan sogokan atau suap-menyuap dalam pandangan Islam dengan ungkapan yang sharih dan zahir. Misalnya hadits berikut ini.

“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap dalam hukum.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

 

Tiga Pihak Terlaknat dalam Suap-Menyuap

Kalau diperhatikan lebih seksama, ternyata hadits-hadits Rasulullah saw. itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil dari sogokan, melainkan juga diharamkan melakukan hal-hal yang bisa membuat sogokan itu terjadi. Maka yang diharamkan itu bukan hanya satu pekerjaan, melainkan tiga pekerjaan sekaligus: yang menerima, memberi, dan mediator sogokan.[iv]

Demikian sedikit pemahaman tentang suap-menyuap dalam pandangan Islam. Semoga artikel kecil ini membimbing kita untuk dapat menjauhi perbuatan terlaknat ini. Wallahu’alam.


Sumber Bacaan:

  1. [i] Abdullah bin Abd. Muhsin, (2001), Suap dalam Pandangan Islam, Jakarta: Gema Insan , hlm. 9
  2. [ii] Anwar Sarwat, 2009, Kitab Muamalat, Kampus Syariah, hlm. 245-250
  3. [iii] Ahmad Syaryashy, (1981)Yasalunaka fi Ad-Din wa al-Hayat. Beirut: Dar Al-Jail, hlm. 81
  4. [iv] Anwar Sarwat,op.cit, hlm. 251